Lanjut ke konten

Geolistrik dan Elektromagnetik (GEM)

Kuliah Geolistrik dan Elektromagnetik (GEM) diberikan kepada mahasiswa Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB di tingkat 3 (semester 6). Pada blog ini ditampilkan materi kuliah tersebut untuk tahun akademik 2009/20010 dalam bentuk slide. Materi utamanya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada up-date contoh-contoh aplikasi.

Kuliah ini lebih difokuskan pada metode Geolistrik dan Magnetotellurik (MT). Materi lain disajikan secara singkat sebagai overview. Tentu saja materi yang ada di sini hanya bersifat ‘pointers’ dan hanya merupakan sebagian kecil dari materi yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa yg dapat diperoleh dari textbook, internet dll.  

Halaman ini dimaksudkan untuk menampung komentar, saran atau pertanyaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kuliah Geolistrik dan Elektromagnetik (GEM) secara umum.  Komentar, saran atau  pertanyaan yang berhubungan dengan topik kuliah tertentu secara khusus dapat disampaikan langsung di bawah tulisan (slide presentasi) yang bersangkutan.

Materi yang disajikan dalam kuliah ini disarikan dari berbagai sumber (terutama dokumen yang tersedia di internet) yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak atas kontribusi yang telah diberikan. (Catatan: Blog ini masih dalam masa konstruksi dan eksperimen. Harap maklum atas kekurangan yang ada).

Berikut adalah slide kuliah pendahuluan.

 

Kuliah / Bab selanjutnya bisa dilihat di:

Geolistrik (1)

Geolistrik (2)

Geolistrik (3)

Geolistrik (4)

Applied Potential (AP)

Self Potential (SP)

Induced Polarization (IP)

Magnetotellurik/MT (1)

Magnetotellurik/MT (2)

Controlled-Source Audio MT

Transient EM

Very Low Frequency EM (VLF-EM)

Ground Penetrating Radar (GPR)

35 Komentar leave one →
  1. 11 April 2008 1:22 pm

    denger2 mau ada GPR baru ya? boleh ikutan donk? saya blom punya blog mohon kontak via mail aja ya pak?

  2. 14 April 2008 12:44 pm

    Anda tahu dari mana? wah ternyata “good news travel fast” yah … Kita lihat perkembangannya nanti saja ya.

  3. trimawiasa permalink
    3 April 2010 9:16 am

    pak mohon penjelasanya. biasanya selama ini kita mengukur tahanan jenis dengan menggunakan resistivity meter, apakah bisa pak kita mengukur dengan menggunakan hukum Ohm?

  4. 21 September 2010 12:41 am

    Pak Dosen yang baik hati berbagi ILMU. semoga setiap ilmu yang diberikan menjadi amalan terbaik dan mendapatkan keberkahan.

    salam kenal, saya mahsiswa geofisika. Nama saya SANDY akbar. sekarang sedang melakukan proses tugas akhir. tentang metode EM (elektromagnetik). Sayangnya metode EM yang saya lakukan termasuk metode yang tidak populer di Indonesia. Saya sedang melakukan pengolahan data tentang metode CSEM tapi untuk onshore. karena keterbatasan referensi baik buku maupun narasumber untuk diskusi saya banyak mendapat kendala.

    adakah saran atau solusi dalam hal tsb. sungguh saya sangat tertarik dan ingin banyak belajar.

    terimaksih.
    salam hormat
    sandy akbar

    • Hendra Grandis permalink
      22 September 2010 11:36 am

      Saya sendiri masih awam soal CSEM. Setahu saya belum ada textbook yg secara khusus membahas CSEM, kebanyakan referensi berupa paper di jurnal. Coba cari via Google pasti banyak yg bisa di-download. Itupun matematik-nya saya tidak begitu paham.

      Jika ada yg anda perlukan dari Geophysics, Leading Edge atau Geophysical Prospecting, First Break saya bisa bantu akses-nya.

      Di UI mungkin anda bisa konsultasi dengan Pak Yunus Daud mengenai hal ini.

  5. trimawiasa permalink
    21 September 2010 10:47 pm

    sy mahasiswa progstudi pendidikan fisika FKIP Universitas haluoleo, mhon mf pak atas keawaman sy pak. setelah sy coba dalami mengenai metode geolistrik ternyata menarik sekali pak. sesuai penjelasan bapak bahwa interpretasi data geolistrik dalam hal ini data resistivitas harus dikorelasikan dengan data-data geologi. yang ingin sy tanyakan pak dalam hal pendugaan air tanah menggunakan metode resistivitas, teknis seperti apa pak yang harus dilakukan untuk mengkorelasikan data resistivitas dengan data geologi? mohon juga penjelasannya data geologi seperti apa yang harus dibutuhkan. terima kasih

    • 22 September 2010 11:40 am

      Peta geologi dan informasi hidro-geologi serta data bor yg ada di sekitar daerah penelitian bisa memberikan info mengenai batuan yg ada. Resistivitas batuan tsb. (range-nya) bisa dilihat dari literatur.
      Dari situ nantinya kita bisa interpretasi bahwa resistivitas tertentu kemungkinan berasosiasi dengan batuan tertentu. Juga kemungkinan posisi (kedalaman dan penyebaran) akuifer berasosiasi dengan lapisan dengan resistivitas tertentu (biasanya yg low).

      • trimawiasa permalink
        18 Oktober 2010 9:43 am

        trimakasih banyak pak atas penjelasannya. tapi dari referensi yang saya temukan rentang resistivitas batuannya berbeda-beda. mohon pak arahnya rujukan yang bisa dijadikan referensi.

      • 18 Oktober 2010 10:38 am

        Kelihatannya tidak ada yg bisa sama persis rentang resistivitasnya karena mungkin saja semua itu hasil generalisasi.

      • trimawiasa permalink
        19 Oktober 2010 7:57 am

        senangnya …saya jadi banyak dapat ilmu dari bapak. sy pak sedang olah data resistivitas dengan menggunakan Software Ipi2win,ada beberapa istilah yang belum sy pahami sekali lagi penjelasnya pak, misalnya 1) Pseudo Cross Section dan Resistivity cross section apa sebenarnya perbedaan dan kegunaannya, 2) vertikal derivative transformation dan vertikal derivative transformation kegunaanya untuk apa pak. 3) pertanyaan terakhir sampai berapa persen koreksi error yang bisa diijinkan dalam ilmu geolistrik untuk interpretasi datanya. sekali lagi trimaksihatas perkenannya pak.

      • 19 Oktober 2010 8:22 am

        Pada pseudo cross section yg diplot resistivitas semu (data) yg mash asli dengan sumbu vertikal AB/2 (utk konfigurasi Schlumberger) atau secara umum spasi elektroda yg menggambarkan kedalaman secara kualitatif. Kalau resistivity cross section yg diplot adalah resistivitas hasil pemodelan dengan sumbu vertikal sudah berupa kedalaman sehingga dapat dilakukan interpretasi secara lebih kuantitatif.

        Vertikal derivative adalah turunan atau gradien dalam arah vertikal dari data geolistrik, biasanya untuk memperjelas batas harga resistivitas (perlapisan). Namun transformasi ini jarang dilakukan, hanya untuk membantu interpretasi kualitatif.

        Error yg ditoleransi dalam inversi sangat bergantung pada kualitas data. Kalau datanya bagus, tidak banyak noise maka error-nya harus lebih kecil. Umumnya sekitar 5-10% sudah bagus. Kalau datanya “noisy” mungkin kita tidak bisa memperoleh error yg lebih kecil, sehingga interpretasinya harus lebih hati-hati.

      • trimawiasa permalink
        19 Oktober 2010 12:08 pm

        trimaksih banyak pak, jadi tamabah semanagat mudah2an dengan bekal ilmu dari bapak skripsi sy bs cepat slesai. jika saya nanti temukan kesulitan sy pasti akan tanyakan kebapak.

  6. 2 Oktober 2010 8:57 am

    Selamat Pagi Pak Grandis.

    Saya ingin tanya hal yang berkaitan dengan pengolahan data EM. misalnya kita sudah memiliki data medan magnet(H) dan medan listrik(E) dalam deret waktu (time series) yang sudah terlebih dahulu dilakukakan tahapan preprocessing (noise removal, stacking, dll).

    Bagaimanakah caranya untuk mendapatkan nilai resistivitynya (resistivity sectionnya)?
    keterangan: data pengukuran dengan time domain (60 titik sounding dalam 1 line) .

    Apakah data tersebut harus di ubah dari domain waktu ke domain frekuensi(dengan forier Transform) Jika iya mengapa jika tidak mengapa?

    sepengetahuan saya untuk dapat mendapatkan penampang resistivitas saya harus terlebih dahulu mendapatkan nilai resistivitas semu terlebih dulu, dari situ nanti kemudian kita mendapatkan nilai resistivitas dengan menginversinya. Apakah benar begitu Pak?

    Mohon pencerahannya Pak.
    Terimakasih.
    Salam Hormat.

    • 4 Oktober 2010 7:13 am

      Karena MT adalah metode EM domain frekuensi maka utk meng-ekstrak informasi yang ada dalam data MT (berupa time series medan EM) dilakukan transformasi Fourier. Dalam doman frekuensi proporsionalitas antara medan E dan H menghasilkan impedansi. Umumnya hal ini dilakukan dengan menggunakan software bawaan dari alat, meskipun secara prinsip bisa dilakukan dengan program yg juga sudah disediakan oleh komnitas EM.

      Dari impedansi dapat dihasilkan resistivitas semu sebagai frekuensi (atau periode) yg secara kualittatif menggambarkan variasi resistivitas sebagai fungsi dari kedalaman di setiap titik pengamatan. Model resistivitas 1-D atau 2-D diperoleh melalui pemodelan data sounding tsb.

      Mudah2an dapat sedikit memberi tambahan penjelasan.

      • 5 Oktober 2010 9:31 am

        oh begitu Pak.

        Tapi ada hal yang masih perlu penjelasan.
        1. Apakah metode yang bapak jelaskan untuk semua konsep EM termasuk metode EM yang aktif seperti CSEM atau CSAMT?
        2. lalu bagai mana tentang kasus yang saya kerjakan. yaitu METODE CSEM dengan domain waktu, haruskah juga melakukan fourier transform?
        3. Impedansi (Z) didefinisikan sebagai perbandingan komponen medan magnet
        dan medan listrik yang saling tegak lurus(Djedi, pertamina) apakah ada TULISAN atau referensi mengenai program yg juga sudah disediakan oleh komnitas EM tsb.

        terimaksih Pak.
        Salam Hormat.

  7. hendra grandis permalink
    6 Oktober 2010 11:00 am

    Apa yg saya bahas lebih mengarah pada yg natural source (MT). Untuk CSEM / CSAMT perlu memperhitungkan efek dari adanya artificial source sehingga sangat berbeda. Terus terang saya tidak terlalu menguasai, hanya yg basic / konsep garis besarnya saja.

    Kalau CSEM domain waktu sepertinya tidak perlu transformasi ke domain frekuensi.

    Untuk data processing MT coba ke web-nya MT-NET (cari di google) disitu pada bagian program/code ada beberapa program yg bisa di-download langsung atau harus menghubungi pembuatnya.

  8. rendi hermana permalink
    11 Oktober 2010 9:19 am

    wah saya anak geo yang sedang blajar makasih atas ilmu yang anda sajikan

  9. 2 November 2010 12:07 pm

    sy mau bertanya untuk sekian kalinya lagi ini pak. kalau resistivitas yang kita peroleh ternyata tumpang tindih untuk beberapa jenis lapisan batuan. bagaimana menginterpretasikan data tersebut untuk satuan batuan yang sama dan untuk satuan batuan yang berbeda?

    • hendra grandis permalink
      4 November 2010 11:11 am

      Biasanya interpretasi kualitatif dilakukan dengan membagi lapisan2 yg dihasilkan menjadi beberapa kelompok, misal resistivitas rendah, menengah dan tinggi. Batasan masing-masing interval tergantung resistivitas yg dihasilkan oleh data dan pemodelan, tidak ada patokan yg pasti. Lalu masing-masigh interval tsb. dikorelasikan dengan formasi batuan atau kelompok formasi batuan yg relevan (yg ada di daerah survey). Itu semua secara garis besar saja tidak bisa spesifik langsung ke jenis batuan/litologi. Kalau ada data bor dan logging resistivitas bisa agak lebih spesifik.

      • trimawiasa permalink
        5 November 2010 9:08 pm

        berdasarkan peta geologi & beberapa laporan dari Dinas ESDM daerah yang sy teliti (tepatnya di kabupaten Kolaka bagian timur Sultra) terdiri dari dari formasi batuan Qal (formasi batuan Alluvium) dan formasi batuan PZm (formasi batuan sekis, ofiolit dan peridotit). berdasarkan referensi memang formasi Qal litologinya memiliki rentang resistivitas sedang sedangkan formasi Pzm resistivitasnya tinggi. Dari referensi bahwa kemungkinan keterdapatan lapisan air peluangnya akan lebih besar pada litologi pasir hingga litologiberupa kerikil untuk formasi Qal. Sementara itu pada formasi Pzm kemungkinan keterdapatan air tanah peluangnya sangat kecil. hal tersebut pun sesuai dengan fakta dilapangan.Sebagian besar data bor sumur penduduk lapisan airnya diperoleh pada lapisan pasir.Kesulitannya adalah data bor yang diperoleh tidak cukup dalam hanya berkisar 30 meteran,sementara inversi software IPI2WIN bisa melebihi kedalaman itu, permasalahannya kemudian adalah bagaimana menginterpretasikan datanya untuk kedalaman yang lebih dari kedalaman 30an meter tersebut, sebab ada rentang resistivitas litologi batuannya terletak pada rentang ketumpang tindihan dari resistivitas yang dimiliki oleh kedua formasi batuan diatas, yaitu resistivitas yang besarnya berkisar 400-500Ohmmeter.

        ada saran pak berdasarkan penjelasan saya yang diatas?

  10. 16 November 2010 8:41 am

    Mungkin untuk interval kedalaman di luar jangkaan data bor lebih didasarkan pada data geologi saja. Seperti kasus jika tidak ada bor sama sekali.

    • trimawiasa permalink
      13 Januari 2011 10:42 pm

      pak mohon sekali lagi pak berikan petunjuk referensi untuk nilai resistivitas Pasir-Kerikil (lapisan pasir yang ada kerikilnya). masalahnya saya sudah berusah googling tapi yang pas berkaitan dengan pasir-Kerikil belum ketemu pak. mohon bantuannya.

      • hendra grandis permalink*
        17 Januari 2011 7:19 pm

        Maaf saya juga sudah Googling juga belum ketemu yg anda maksudkan. Pada kasus seperti ini mestinya kembali kepada prinsip bahwa apa yg terukur oleh geolistrik tidak selalu bersifat absolut resistivitas sekian adalah sekian (dalam arti harga mati). Namun harga-harga resistivitas relatif satu-sama lain dalam satu area bisa dikorelasikan dengan info yg ada. Setahu saya kalau pasir/kerikil umumnya porous dan terisi fluida (air tanah) sehingga konduktif. Konduktifnya berapa ya saya tidak tahu, bisa kurang dari 5 Ohm.m bisa juga antara 5-10 Ohm.m tapi yg jelas tidak akan 100 Ohm.m (hasil pemodelan, bukan resistivitas semu hasil pengukuran). Kalau ada batuan lain, gamping misalnya, dia akan resistif bisa > 500 Ohm.m demikian seterusnya.

  11. arik permalink
    8 Januari 2011 9:15 pm

    saya arik pak, maaf mau tanya, apakah ada buku yang menjabarkan secara umum tentang tabel Variasi Resistivitas Material Lapisan Bumi,.? terima kasih sebelumnya,

    • hendra grandis permalink*
      17 Januari 2011 7:20 pm

      Buku2 tentang geofisika eksplorasi seperti karangan Telford, Reynolds dll. biasanya ada hal2 yg menyangkut harga resistivitas batuan.

      • arik permalink
        21 Januari 2011 8:46 pm

        ya pak, saya sudah baca buku2nya itu, tp kebanyakan per item, misl clay, garnit, yang saya ingin tahu.., misal lapisan pasir kerikil bercampur lanau harga resitivitasnya berapa?

      • Hendra Grandis permalink*
        23 Januari 2011 7:11 pm

        Maaf saya juga belum pernah baca hal2 yg anda tanyakan, jadi saya juga tidak tahu karena selama ini yg saya lakukan hanya sampai pemodelan saja, tidak sampai interpretasi.

  12. stephanus permalink
    31 Januari 2011 1:00 am

    salam kenal pak
    nama saya stephanus
    pak saya mau beli buku atau diktat yang berhubungan dengan geolistrik, bila masih ada saya minta tolong dapat memberikan kabar ke email saya nanti saya akan menghubungi bapak lagi.
    terima kasih atas perhatian bapak
    salam stephanus

  13. Putu permalink
    9 Februari 2011 5:03 pm

    Selamat Sore Pak,
    Kenalkan saya putu pak.
    Langsung saja ya pak, sepertinya saya punya pertanyaan menarik pak dan masih belum ketemu pak (saya baca Telford juga). Saya melakukan pengukuran geolistrik dengan menggunakan konf. double dipole dan Wenner dengan alat SYSCAL Multielectrode. Nah, data yang saya dapatkan adalah ada beberapa nilai Rho pada titik quadripole itu bernilai ‘MINUS (-)’ pak.

    Yang saya tanyakan, apakah kira2 penyebab nya?,. apakah dari alat?, kabel? ataukah lithologi di bawah permukaan?
    dan satu lagi pak, faktor apakah yang menyebabkan lonjakan nilai resistivtas yang CUKUP TINGGI pada pengukuran geolistrik resistivitas?

    Saya tunggu jawabannya ya pak…via email saya juga boleh
    di putuary.geophysicsupn@gmail.com

    Regards,

  14. Adam permalink
    22 Maret 2011 7:46 am

    I downloaded the program zondres2d from one website.
    And the author has given me a license for a year free. The program works
    good, but no English manual. Maybe someone has.
    So far I have to use google translator.

  15. nurul hidayati permalink
    8 Februari 2012 7:54 am

    Penentuan lapisan batuan dengan geolistrik pernah dilakukan di daerah saya, Lombok Barat, NTB. Hanya hasil geolistrik itu meragukan dalam beberapa hal

  16. 23 Mei 2013 3:55 am

    Pretty nice post. I just stumbled upon your blog and wished to say that I have truly enjoyed surfing around your
    weblog posts. In any case I will be subscribing for your feed and I’m hoping you write again soon!

Lacak Balik

  1. Kuliah Semester 2 tahun 2009/2010 « Geofisika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: